Posted by: thelope | April 28, 2017

Doa

Seusai menoreh untuk baris terakhir di kebun getah Hj Kidam itu, Maulud berhenti rehat. Dia mengeluarkan bekal cekodok tepung kucai. Ketika mengunyah, matanya melontar kepada baris baris hutan banat, beralun alun dimana awan mencumbui puncaknya, batang leban dan tualang, helang dan angin kemudian berbolak balik diantara lembah sempit dan lereng bukit. Maulud terkenangkan Rodhiah.

Dia segera bangun dan mengambil pisau torehnya. Perlahan lahan melakar di batang rambai besar “Rod Love Maulud”, dengan lambang ‘love’ yang besar dan ada gambar busur panah merentasi lambang cinta itu dan ¬†dibelakang busur itu terlakar beberapa lembar, seperti bulu ayam barangkali atau juraian tali kah?

Maulud tersenyum sendirian, “ini lakaran di pohon rambai ku tulis biar dilihat tuhan dan menjadi doa. Doa kemudian didengar tuhan dan……Rod, engkau perempuan yang akan duduk di pelamin hidupku nanti”…Maulud bermonolog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: