Kamal Bey akhirnya duduk di meja hujung yang berhampiran wash room. Hangat petang masih bertaburan di simpang2 jalan BBK. Dia kembali datang ke Restoran The Bees walau masa2 kebelakangan ini dia berseorangan. Dia akan ke sini seperti seolah olah dia masih menunggu Yang Fatimah, seolah olah dia melihat Yang Fatimah muncul di muka cermin pintu kaca dan dengan senyuman lalu duduk di sebelahnya.
Kamal Bey membuka laptop nya, dia menulis :
I was lying on the bed like a corpse, though in pain and intensely aware of it, like an animal listening helplessly to its last breath. The pain was deeper and harsher than anything I had felt until to day, afflicting every part of me. I felt I should get out of bed, distract myself, look for a way out of this predicament, but I just couldn’t summon the will. I’m the fugitive of my own dream.
Petang seperti lazimnya longlai bergerak untuk ketemu senja. Lampu lampu di golf driving range, yang berhadapan dengan Restoran The Bees, sudah mulai terpasang. Kelihatan kereta mula berbondong keluar dari Pasaraya Besar bersebelahan driving range. Lampu lampu di KEC juga mulai berbinar, awan yang jauh kelihatan berbalam.
I have engraved in my memory what I still regard as a postcard of bliss, sent to me, now dispersed to the outer reaches of the garden, and beyond them among the trees and the colored lamps, the landscape and the deep dark sky.
Kamal Bey menutup laptop nya, ketika dia keluar, rintik rintik hujan mulai bertabrakan, jatuh ke cermin cermin kereta yang di pakir berbaris, jatuh ke pohon pohon, ke rumput driving range dan jatuh ke dalam hatinya.
“… rintik rintik hujan mulai bertabrakan … dan jatuh ke dalam hatinya.” Aaah, saya juga merasakan tempiasnya!
Januari datang lagi dan Disember masih jauh di hadapan. Masih banyak masa untuk diburu mimpi dan memburu mimpi …
Salam Bang Lope.
By: Bunga Rampai on January 6, 2012
at 12:21 am